Kelenteng Kong Hwie Kiong punya cerita Sejarah yang Unik

G-PenaKedu – Kebumen memiliki banyak sekali wisata-wisata menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan, salah satunya yaitu wisata Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen. Wisata religi ini berada di Jalan Pramuka No. 42 Kebumen. Letaknya memang tidak berada di pinggir jalan seperti yang lainnya. Oleh karena itu para pengunjung yang datang harus masuk ke dalam gang sekitar 30 meter dari jalanan. Namun, di area depan kelenteng terdapat lapangan terbuka yang cukup luas dan dapat dinikmati pengunjung. Wisata satu ini memang cukup menjadi kebanggaan bagi masyarakat sekitar karena setiap tahunnya berbagai macam acara keagamaan Tionghoa. Bagi kalian yang tertarik mengunjungi kelenteng ini, berikut ini beberapa informasi seputar wisata yang dapat anda ketahui.

Sejarah Kelenteng Kong Hwie Kiong

Kelenteng Kong Hwie Kong Kebumen ini pertama kalinya dibangun oleg Liem Kik Gwan yang merupakan seorang letnan keturunan dari Tionghoa. Bangunan kelenteng ini dibangun pada tahun 1898. Pada masanya, Liem Kik Gwan adalah petugas yang bekerja untuk mengumpulkan pajak bagi masyarakat Tionghoa setempat dan kemudian diserahkan kepada Bangsa Belanda. Kelenteng tersebut dibangun dengan tujuan sebagai tempat ibadah bagi warga keturunan Tionghoa karena memang jumlahnya yang cukup banyak.

Kelenteng yang berumur sekitar 114 tahun ini memiliki 15 altar serta 25 patung dewa-dewi. Dalam kelenteng tersebut, dewa yang menjadi tuang rumah adalah Thian Shang Senmu atau yang dikenal dengan Dewi Samudera. Selain itu, terdapat dewa lainnya yang juga dipuja oleh masyarakat setempat yaitu Dewa Hok Tej Ceng Sin.

Pesona yang Ditawarkan

Ada banyak sekali altar-altar yang digunakan untuk tempat persembayangan yang letaknya bedekatan maupun terpisah. Di dalam cungkup kecil, kalian bisa terlihat adanya rupang Pau Bao Sheng Da Di atau Sen Ta Ti yang dipuja masyarakat Tionghoa sebagai seorang Maharaja Pelindung Kehidupan. Beliau diapit 2 rupang lainnya, salah satu diantaranya memiliki muka berwarna hitam.

pintu-masuk-klenteng

Adapun latar yang digunakan untuk sembahyang bagi pengikut Tao adalah Lao Tze atau rupang Laozi yang berada dalam posisi duduk bersila dengan diapit seorang panglima perang dan dewi. Selain itu, terdapat lambing Yin-Yang yang berada di dinding bagian belakang. Di sebelahnya, bisa ditemukan altar sembahyang untuk Kong Hu Cu.

Di dinding bagian kanan di ruangan utama kelenteng, pengunjung bisa menyaksikkan deretan lukisan-lukisan dengan berbagai makna filosofis di dalamnya. Salah satunya terdapat lukisan yang memperlihatkan adanya penjual tameng dan penjual tombak yang sesumbar dengan kekuatan barang-barang yang dijualnya.

Keberadaan dari Kelenteng ini tidak hanya sebagai tempat sembahyang bagi masyarakat Tionghoa setempat. Namun juga seringkali digunakan sebagai tempat perkumpulan untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama. Dengan adanya Kelenteng ini, diharapkan menjadi simbol toleransi yang kuat di kalangan masyarakat Kebumen. Meskipun di era orde baru segala aktivitas yang dilakukan warga Tionghoa cukup dibatasi, namun kini semuanya sudah mulai terbuka.

Bagi pengunjung yang datang dan ingin menyaksikan megahnya bangunan Kelenteng Kong Hwi Kong Kebumen ini, pihak pengelola membuka pintu selebar mungkin dan memperkenankan bagi siapa pun dapat berkunjung ke wisata Kelenteng ini. Baik itu untuk menyaksikan segala sejarah yang tersimpan di dalamnya ataupun menikmati perayaan-perayaan Tionghoa seperti Imlek.

Mitos

Hingga saat ini masih banyak mitos yang simpang siur terkait keberadaan salah satu klenteng di Kebumen ini. Menurut Tejo, yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Waskita Mulia sekaligus pengelola klenteng, mengatakan bahwa tidak semua orang datang dengan tujuan untuk beribadah, beberapa dari mereka memiliki tujuan lain. Mereka tidak hanya penganut Tridarma saja, melainkan dari agama lain. Beberapa dari mereka merupakan pedagang di pasar Baledono.

kelenteng-kong-hwie-kiongAdapun tujuan para pedagang tersebut adalah untuk meminta kelancaran dalam usaha yang mereka lakukan. Sedangkan beberapa lainnya datang dengan tujuan menyelesaikan suatu sengketa. Salah satu sengketa yang sering terjadi adalah kasus kehilangan barang di pasar. Dalam catatan kisahnya, dahulu ada seorang pedagang yang menuduh seseorang mencuri dagangannya. Akan tetapi, tuduhan tersebut disangkal. Mereka berdua pun kemudian mendatangi klenteng ini dan melakukan sumpah serapah. Orang yang dituduh tersebut bersumpah bahwa apabila dia benar mencuri, dia akan mati dikemudian hari. Beberapa hari setelah sumpah tersebut diucapkan, orang tersebut benar-benar meninggal dunia. Kejadian ini tentunya tidak dilupakan begitu saja oleh masyarakat Baledono hingga detik ini.

Ada pula yang menganggap bahwa Klenteng Kong Hwie Kiong ini dikenal bertuah. Salah satu kejadian yang masih diingat adalah beredar informasi bahwa klenteng tersebut akan dibakar oleh sekelompok orang. Pada suatu hari, orang-orang tersebut mendatang klenteng untuk memusnahkannya. Akan tetapi, sebelum mereka melakukan aksinya, mereka tiba-tiba lari menjauh dari klenteng ini. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia melihat Kwan Kong, salah satu dewa yang dipuja di klenteng ini mendatangi mereka dengan amarah.

Operasional dan Info Penting

Adapun jam operasional Kelenteng Kong Hwie Kiong biasanya dari pagi hingga sore hari. Akan tetapi dalam beberapa event, dibuka sampai malam hari. Jam operasional resmi kami belum mengetauhinya secara pasti karena informasinya belum lengkap. Jika kalian membutuhkan informasi lebih lanjut bisa menghubungi pihak pengelola.

Kontak : (0287) 381373

Nah itu tadi penjelasan rinci dari wisata Kelenteng Kong Hwie Kiong di Kebumen yang dapat kalian ketahui. Bagi kalian yang menyukai hal-hal berbau sejarah, mungkin wisata ini akan sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat ya.

Author: Admin

cuma Admin yang memantau timeline - yang dibelakang layar biarlah tetap dibelakang layar :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *